KAMMA ATAU HUKUM SEBAB AKIBAT
Dunia telah membuktikan kenyataan yang telah kita lihat ketidak
seimbangan itu. Kita menyaksikan perbedaan – perbedaan berbagai macam
jalan kehidupan serta tingkah laku makhluk – makhluk yang hidup di alam
semesta. Kita dapat melihat seseorang dilahirkan dalam keadaan
berlebihan, dikarunia dengan pikiran, kepribadian dan tubuh yang
sempurna ; sedangkan orang lain dilahirkan dalam keadaan sengsara dan
menyedihkan. Bisa terjadi orang yang bajik dan saleh selalu bernasib
buruk. Ia tetap miskin dan sengsara meskipun ia selalu berlaku jujur
dan bajik. Sebaliknya, ada orang lain yang berwatak jahat, kejam dan
korup, tetapi selalu mujur, dikaruniai dengan segala bentuk kesenangan.
Timbul berbagai pertanyaan dalam diri kita, mengapa seseorang
mempunyai kedudukan rendah, sedang orang lain mempunyai kedudukan mulia
? Mengapa seseorang harus direnggut dari tangan ibu yang penuh kasih
sayang sewaktu ia masih kanak – kanak, sedangkan orang lain meninggal
dalam usia remaja atau pada usia delapan puluh atau seratus tahun ?
Mengapa seseorang memiliki fisik lemah dan berpenyakitan, sedang orang
lain memiliki tubuh yang kuat dan sehat ? Mengapa seseorang berwajah
tampan, dan orang lain berwajah buruk, menakutkan, sehingga orang lain
ngeri dan takut melihatnya ? Mengapa seseorang dibesarkan dalam
kemewahan, sedang orang lain dibesarkan dalam kemiskinan dan
kesengsaraan ? Mengapa seseorang terlahir sebagai jutawan, sedang orang
lain terlahir sebagi pengemis ? Mengapa seseorang memiliki kecerdasan
luar biasa, sedang orang lain begitu tolol ? Mengapa seseorang terlahir
dengan sifat saleh, sedangkan orang lain terlahir dengan kecenderungan
– kecenderungan kriminal ? Mengapa ada orang yang berbakat sebagai
ahli bahasa, artis, ahli matematika atau ahli musik sejak lahir ?
Mengapa ada orang yang buta, tuli dan cacat sejak lahirnya, mengapa ?
Inilah beberapa pertanyaan yang membingungkan orang – orang. Bagaimana
kita harus menerangkan
“ ketidakadilan “ dunia, perbedaan – perbedaan di antara umat manusia ini ? Apakah semua fenomena itu terjadi secara kebetulan ?
Dalam dunia ini tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan.
Menyatakan bahwa sesuatu terjadi secara kebetulan adalah sama salahnya
dengan menyatakan buku ini ada dengan sendirinya tanpa ada faktor –
faktor lain sebelumnya. Sesungguhnya, tak ada sesuatu yang terjadi pada
manusia tanpa alasan dan yang tidak dikehendaki.
Apakah hal – hal ini disebabkan oleh sesuatu makhluk yang tak bertanggung jawab ?
Huxley menulis : “ Apakah kita berpendapat bahwa ada
seseorang atau sesuatu yang mengatur keadaan alam semesta yang
menakjubkan ini, maka dalam pengertianku ia tidak dapat disebut murah
hati dan adil, melainkan kejam dan tidak adil “.
Menurut
Einstein : “ Bila makhluk adikodrati ini maha
kuasa, maka setiap kejadian, termasuk setiap perbuatan, pikiran,
perasaan dan aspirasi manusia juga merupakan karyanya ; lalu bagaimana
manusia harus bertanggung jawab atas perbuatan – perbuatan dan pemikiran
– pemikiran mereka dihadapan makhluk maha kuasa seperti itu ?
“ Sewaktu memberi hukuman dan anugrah, ia sedikit banyak juga harus
mengadili dirinya sendiri. Lalu bagaimana hal ini dapat dikaitkan
dengan kebajikan dan keadilan yang dianggap berasal dari dirinya ? ”.
“ Menurut asas – asas theologie, manusia diciptakan bukan atas dasar
keinginannya sendiri, dan untuk selamanya ia mulia atau celaka. Dengan
begitu, sejak awal dalam proses penciptaan fisiknya sampai saat
kematiannya, manusia itu dapat baik atau jahat, beruntung atau celaka,
mulia atau hina, tanpa menghiraukan akan keinginan – keinginan, harapan
– harapan, cita – cita, usaha – usaha atau doa sujudnya. Inilah
fatalisme theologi “.
( Spencer Lewis ).
Sebagaimana
Charles Bradlaugh mengatakan : “ Adanya
keburukan merupakan suatu penghalang yang menakutkan bagi ajaran theis.
Penderitaan, kesengsaraan, kejahatan, kemiskinan bertolak belakang
dengan penganjur kebaikan abadi dan berlawanan dengan pernyataannya akan
kemampuan dirinya sebagai dewa serba baik, serba bijaksana dan serba
kuasa “.
Menurut
Schopenhauer “ Barang siapa menganggap
dirinya berasal dari ketiadaan, maka ia juga harus berpikir bahwa ia
akan kembali ke ketiadaan itu lagi ; suatu kekekalan telah lewat
sebelum ia ada dan kekekalan kedua telah dimulai, yang melaluinya ia
tidak akan pernah berakhir adalah suatu pemikiran yang menakutkan “.
“ Bila kelahiran adalah permulaan yang mutlak, maka kematian
seharusnya akhir yang mutlak pula. Anggapan bahwa manusia berasal dari
ketiadaan pasti akan membawa pada anggapan bahwa kematian adalah akhir
yang mutlak “.
Memberikan komentar terhadap penderitaan manusia dan dewa pencipta,
Prof.J.B.S. Haldane menulis
: “ Kalau bukan penderitaan yang diperlukan untuk menyempurnakan sifat
manusia, tentu dewa pencipta itu tidak maha kuasa. Teori yang pertama
tidak sesuai dengan kenyataan bahwa, sebagian orang yang hanya sedikit
sekali menderita namun beruntung dalam keturunan dan pendidikan
terbukti mempunyai sifat yang baik. Keberatan terhadap teori yang kedua
adalah bahwa hal itu hanya berkenaan dengan alam semesta secara
keseluruhan dan bahwasanya terdapat suatu kekosongan intelektual yang
harus diisi dengan mendalilkan seorang dewa. Dan barangkali seorang
pencipta dapat menciptakan apa saja yang dia inginkan “.
Lord Russell menyatakan : “ Sebagaimana diceritakan kepada
kita, dunia diciptakan oleh seorang dewa yang baik dan maha kuasa.
Sebelum dia menciptakan dunia, ia telah melihat seluruh penderitaan dan
kesengsaraan yang akan terjadi di dalamnya. Karenanya, ia bertanggung
jawab atas segala sesuatunya. Adalah suatu hal yang sia – sia
memperdebatkan bahwa penderitaan dalam dunia disebabkan oleh dosa. Bila
dewa pencipta itu telah mengetahui sebelumnya akan dosa yang bakal
dilakukan umat manusia, maka jelas ia bertanggung jawab akan akibat –
akibat dosa itu.
Mungkinkah segala perbedaan yang ada pada manusia ini disebabkan
oleh faktor keturunan dan lingkungan ? kita harus mengakui bahwa semua
fenomena fisik – kimiawi yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian
adalah sebagai faktor pembantu, tetapi tidak seluruhnya mutlak
bertanggung jawab atas perbedaan – perbedaan besar yang terdapat di
antara individu – individu. Lalu mengapa ada anak kembar yang memiliki
tubuh serupa, mewarisi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan
yang sama, seringkali memiliki watak, moral dan kecerdasan yang sangat
berbeda ?
Keturunan saja tidak dapat menyebabkan perbedaan – perbedaan yang
besar ini. Sesungguhnya, faktor keturunan lebih masuk akal atas
persamaan – persamaan mereka daripada atas perbedaan – perbedaan. Benih
fisik – kimiawi dengan panjangnya kira – kira sepertiga puluh inci yang
diwarisi dari orang tua, hanya menerangkan satu bagian dari manusia,
yaitu dasar fisiknya. Mengenai perbedaan – perbedaan batin, intelektual
dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu diperlukan penerangan
batin yang lebih dalam. Teori keturunan tidak dapat memberikan suatu
jawaban yang memuaskan tentang lahirnya seorang kriminal dalam sebuah
keluarga yang mempunyai leluhur terhormat atau kelahiran seorang suci
atau mulia dalam sebuah keluarga yang memiliki reputasi jelek dan
tentang lahirnya seorang tolol, manusia genius dan guru – guru besar.
Menurut agama Buddha, perbedaan – perbedaan ini tidak hanya
disebabkan oleh faktor keturunan dan lingkungan, tetapi juga disebabkan
oleh kamma kita sendiri, atau dengan kata lain, disebabkan oleh akibat
dari perbuatan lampau kita dan perbuatan – perbuatan kita sekarang.
Kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas perbuatan – perbuatan
kita. Kita membangun penjara kita sendiri. Kita adalah arsitek dari
nasib kita sendiri. Singkatnya, diri kita merupakan akibat dari kamma
kita sendiri.
Bagaimana kita bisa mempercayai semua ini, dengan perbedaan
berdasarkan hukum sebab akibat atau sebagai hasil dari bibit kammanya
sendiri. Disinilah Sang Buddha tidak memaksa supaya kita percaya. Hal
ini malah kita diminta untuk datang dan buktikan terlebih dahulu. Semua
hal ini bagaikan Beliau menerangkan masalah Bakteri, Virus dan
sebagainya. Kita bisa membuktikan adanya mereka dengan melihat dan
menyaksikan sendiri dengan menggunakan microscope elektrone. Kalau kita
ingin melihat dengan mata daging ini sudah pasti Hukum Kamma yang
begitu rumit dan susah dilihat akibatnya. Tetapi semua ini telah
dibuktikan kebenarannya itu oleh para Suciwan. Dengan kekuatan batin
yang tenang didalam Jhana IV. Jadi secara tegas siapapun yang mampu
mencapai Jhana IV. Mereka pasti bisa membuktikan kebenaran itu.
Pada suatu ketika, seorang pemuda bernama Subha datang menemui Sang
Buddha dan bertanya kepada Beliau, “ Mengapa dan apa sebabnya di antara
umat manusia ada yang memiliki keadaan rendah dan ada yang memiliki
keadaan mulia ? Mengapa ada manusia yang berumur pendek dan ada yang
berumur panjang, ada yang sehat dan ada yang berpenyakitan, ada yang
berwajah tampan dan ada yang berwajah buruk, ada yang berkuasa dan yang
tertindas, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang hina dan ada
yang mulia, ada yang bodoh dan ada yang bijaksana ? “
Sang Buddha menjawab : “ Semua makhluk memiliki kammanya sendiri,
mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan
dengan kammanya sendiri, terlindung oleh kammanya sendiri. Kammalah
yang membuat semua makhluk menjadi berbeda, hina atau mulia “.
Selanjutnya Sang Buddha menerangkan sebab perbedaan – perbedaan tersebut sesuai dengan hukum Sebab Akibat.
Dari sudut pandangan agama Buddha, perbedaan – perbedaan batin,
intelektual, moral dan watak kita sekarang, pada prinsipnya disebabkan
oleh perbuatan – perbuatan kita sendiri yang dilakukan di waktu lampau
dan di waktu sekarang.
Secara harfiah kamma berarti perbuatan, tetapi, dalam pengertian mutlaknya kamma berarti kehendak. Kamma ada yang baik
( Kusala Cetana ) dan yang buruk
( Akusala Cetana ) . Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan. Perbuatan jahat akan membuahkan kesedihan. Inilah hukum kamma.
Kita memetik apa yang kita tanam. Kita adalah akibat dari apa yang
kita lakukan di waktu lampau ; kita akan menjadi akibat dari apa yang
kita lakukan sekarang, tetapi kita tidak mutlak hanya merupakan akibat
dari apa yang kita lakukan diwaktu lampau ; kita tidak mutlak hanya
menjadi akibat dari apa kita lakukan sekarang. Misalnya seorang
kriminal mungkin saja dapat menjadi orang suci dikemudian hari dan
sebaliknya.
Agama Buddha mengkaitkan perbedaan ini dengan kamma, tetapi tidak
menyatakan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma saja. Apabila
segala sesuatu disebabkan oleh kamma, maka seorang penjahat akan
selamanya menjadi jahat, karena kammanya yang menjadikan dirinya jahat.
Orang tidak perlu memeriksakan dirinya ke dokter untuk disembuhkan
penyakitnya, karena bila kammanya memang harus demikian ia akan sembuh
dengan sendirinya.
Menurut agama Buddha, terdapat lima hukuman atau proses ( Niyama ) yang berlaku dalam alam mental dan fisik, yaitu :
•
Kamma niyama atau hukum sebab dan akibat : perbuatan baik dan buruk menghasilkan akibat – akibat yang sesuai.
•
Bija niyama atau hukum benih ( hukum fisik
organik ) ; beras dihasilkan dari padi, gula dihasilkan dari tebu atau
madu, dan lain – lain. Teori ilmiah tentang sel – sel dan gen – gen (
plasma pembawa sifat ) dan kemiripan fisik anak kembar dapat dianggap
berasal dari hukum ini.
•
Utu niyama atau hukum fisik ( inorganik ), yaitu fenomena angin dan hujan menurut musim.
•
Citta niyama atau hukum pikiran ( hukum psikis ), yaitu proses – proses kesadaran ( citta vitthi ), kekuatan pikiran dan lain – lain.
•
Dhamma niyama atau hukum alam, yaitu : fenomena
alam yang terjadi pada saat kedatangan Bodhisatta pada kelahiran
terakhir, gaya tarik bumi, dan lain – lain.
Setiap fenomena mental dan fisik dapat diterangkan dengan lima hukum
serba lengkap ini, atau proses yang merupakan hukum itu sendiri.
Karena itu, kamma hanyalah merupakan salah satu dari lima hukum yang
berlaku dalam alam semesta. Kamma adalah hukum itu sendiri, tetapi
dengan demikian tidak berarti harus ada seseorang pemberi hukum. Kamma
bekerja dalam bidangnya sendiri tanpa campur tangan atau pengaruh dari
apapun. Misalnya, tak ada orang yang memutuskan bahwa api itu harus
membakar. Tak ada orang yang memerintahkan bahwa air harus mencari
permukaan yang rendah. Tak ada ilmuwan yang memerintahkan bahwa air
harus terdiri dari H2O dan sifat dingin harus menjadi salah satu
sifatnya. Kamma bukanlah nasib atau takdir yang ditimpakan pada kita
oleh kekuatan misterius yang tak dikenal, kepada siapa kita harus
menyerahkan diri kita tanpa daya. Perbuatan seseorang sendirilah yang
memberi akibat pada dirinya, sehingga dengan demikian ia mempunyai suatu
kemungkinan untuk membelokkan jalannya kamma sampai taraf tertentu.
Berapa jauh ia dapat membelokkannya tergantung pada usaha dirinya
sendiri.
Perlu diingatkan di sini, bahwa fraseologi seperti anugrah dan
hukuman jangan dimasukkan dalam pembicaraan mengenai kamma. Kamma dalam
agama Buddha tidak mengakui Dewa Maha Kuasa yang memerintah warganya
dan memberikan anugrah atau hukuman. Umat Buddha percaya bahwa
kesedihan dan kebahagiaan yang dialami seseorang merupakan akibat wajar
dari perbuatan – perbuatan baik dan buruknya sendiri. Disini perlu
dinyatakan bahwa kamma memiliki dua prinsip, kelangsungan dan balas
jasa.
Sifat yang terdapat dalam hukum kamma adalah kemampuan yang
menghasilkan akibat sebagaimana mestinya. Sebab menghasilkan akibat ;
akibat menerangkan sebab. Benih menghasilkan buah ; buah menghasilkan
benih, karena keduanya saling berhubungan. Begitu juga, kamma dan
akibatnya saling berhubungan ; “ akibat berkembang di dalam sebab “.
Seorang umat Buddha yang benar – benar yakin akan kamma tak akan
berdoa pada makhluk lain untuk diselamatkan, tetapi dengan penuh
keyakinan ia bergantung pada dirinya sendiri untuk mencapai kesuciannya,
karena hukum kamma mengajarkan tanggung jawab pribadi.
Ajaran kamma inilah yang memberi hiburan, harapan, kepercayaan pada
diri sendiri dan keberanian moral. Keyakinan dalam hukum kamma inilah “
yang mengabsahkan usaha, mengorbankan semangat, untuk selalu berbuat
bajik, toleran dan berhati – hati “. Keyakinan yang teguh dalam ajaran
hukum kamma ini juga mendorong untuk berbuat baik dan menjadi orang
baik tanpa merasa takut akan hukuman atau tergoda oleh anugerah apapun.
Ajaran kamma inilah yang dapat menerangkan persoalan – persoalan
mengenai penderitaan, misteri yang dinamakan nasib atau takdir dalam
ajaran – ajaran lain dan terpenting adalah menerangkan “ ketidaksamaan
di antara umat manusia “. Kamma dan tumimbal lahir diterima sebagai
dalil.
http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/kamma-atau-hukum-sebab-akibat/